Keadaan Lingkungan Mempengaruhi Psikologis Anak

Seperti yang sudah kita ketahui, pola asuh orang tua sangat berpengaruh kepada tingkah laku anak, bahkan dari segi psikologisnya juga. Salah satu kebiasaan negatif atau kebiasaan orang tua yang jelek adalah dengan tidak menghargai pendapat anak-nya, dan cilakanya hal itu telah tertanam dari semenjak sang anak kecil. Kebiasaan jelek tersebut akan menimbulkan trauma prilaku yang akan terekam di otak sang anak yang dapat dikatakan secara permanent. Jika hal itu terjadi, maka akan sangat susah untuk mengembalikan hubungan yang harmonis antara ke-dua belah pihak. Perkembangan psikologis anak secara garis besar dipengaruhi oleh dua faktor, yaitu faktor dari kejiwaan bawaan (bersifat biologis bawaan dari lahir) dan faktor lingkungan (terutama lingkungan keluarga).

Anak yang pola pikirnya belum sepenuhnya dapat dikatakan dewasa, akan cenderung lebih rasional dalam menerima informasi negatif dibandingkan dengan informasi yang sifatnya positif. Hal ini hampir pula terjadi pada setiap individu, termasuk individu dewasa. Informasi negatif dapat lebih mudah diterima karena didalamnya terkandung sifat kesenangan yang sifatnya sesaat, namun akan berdampak buruk bagi orang yang melakukan dan menerapkannya. Jangan sampai anak terjerumus ke dalam hal-hal yang buruk. Hubungan baik dengan anak harus dilakukan sejak dini, salah satu aktivitas yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan sistem floor time. Floor time adalah aktivitas yang dilakukan olah orang tua dengan anak dalam beberapa waktu, dengan tujuan untuk lebih mendekatkan diri dengan anak dan mengenal lebih dalam tentang sifat anak, begitu pula agar anak dapat mengetahui lebih mendalam sifat orang tua. Terutama sifat positif dimana anak dapat mengetahui seberapa besar kasih sayang yang dimiliki orang tua untuk dirinya.

Sas, seorang bocah yang baru berusia tiga tahun sudah pandai merokok. Sas juga pintar berkata kotor. Bahkan jika sedang asyik merokok, Sas tidak bisa ditegur dan dinasehati. Bocah bertubuh ceking itu akan marah karena merasa terganggu.

Penyebab Sas menjadi anak seperti itu adalah faktor lingkungan yang tidak mendidik, dan juga karena kelalaian orang tua. Kedua orang tuanya yang bekerja sebagai kuli bangunan itu membiarkan Sas yang masih sangat kecil bergaul dengan orang dewasa yang tidak bertanggung jawab.

Mujiati, ibunda Sas yang warga Malang, Jawa Timur, mengatakan bahwa Sas dulunya tidak seperti itu. Gaya bicara Sas dulu juga seperti anak-anak lain seusianya. Kini Mujiati hanya bisa sedih dan menyesal bila melihat tingkah laku putra tercintanya itu. Ya, orang tua mana yang tidak sedih melihat anak yang masih sangat kecil sudah berperilaku seperti itu?

Mungkin jika dilakukan teraphy masih bisa memperbaiki sikap Sas. Apalagi mengingat Sas masih sangat kecil. Tapi kadang lingkungan bisa jauh lebih jahat, jika orang tua tidak hati-hati bisa jadi perilaku Sas ini berkelanjutan. Bagaimanapun, Sas hanyalah salah satu dari ribuan atau jutaan anak di Indonesia ini yang menjadi korban lingkungan yang tidak sehat.

 

 

XOXO

This entry was published on November 17, 2010 at 12:02 PM and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: