R.I.P BRIAN

“I’ve been suffering for years, blaming myself for the death of my own mother and father! But thanks you make me feel better.” Cuma itu yang gue inget  dari Brian, teriakan lirih kesakitan dalam hatinya saat terahir kita ketemu. I have no idea gue bisa berdiri disini sekarang. Didepan makam Brian, orang paling terahir yang masih duduk diem dipemakaman umum yang semakin sore ini. Gak banyak yang dateng kepemakaman kelabu ini. Brian gak punya banyak teman, hanya beberapa tetangga yang datang dan hanya membantu prosesi pemakaman, sedangkan gue tahu beberapa orang musushnya tertawa senang ketika Brian dipanggul masuk kedalam liang lahat. Gue bisa aja marah, mengingat gue adalah satu-satunya teman, sahabat, keluarga yang dimiliki Brian. Tapi gak tau kenapa gue capek. I’m tired of this whole graveyard things, gue capek, dan saat mereka tertawa senang ketika Brian tidak bernyawa, I even didn’t have energy to care.

Ok, Brian bukan siapa-siapa gue. Bahkan gue gak kenal dekat dengan dia. Cuma aja gue selalu berfikir kita mempunyai hal yang sama dalam berbagai macam cara, dan somehow kita bisa saling mengerti perasaan kita masing-masing. The best thing about Brian was dia bisa meyakini gue bahwa tersenyum saat lo lagi gak mau senyum itu sangat menyakitkan and sometimes it’s feel free to be not ok. Brian orangnya selalu tertutup, care sama gue tapi tetap memberikan batasan terhadap apa yang dia rasa, rahasia, masa lalu kelamnya. Gue gak protes, gue menghargai kalau dia punya privasi.

Well, I’ve got my friends, I’m more than ok. Gue gak kayak Brian yang selalu menutupi jati dirinya, dan selalu merasa menjadi dirinya ketika ngobrol sama gue. FYI, gue punya banyak teman, but still Brian knows me better. Gak tahu gimana caranya somehow dia tahu apa yang gue rasa, dan sebelum gue minta, dia sudah menyiapkkan berbagai macam cara supaya membuat gue nyaman. Temenan sama Brian bener-bener bikin kita lupa akan siapa kita dan bagaimana keadaan dunia luar, biarpun sebagian orang menganggap dia aneh, freak, and more. Kalau lo kenal dia lebih dekat, lo pasti bakal sadar, Brian adalah orang yang bakal lo rindukan kalau dia gak ada, dan sekarang gue mersakan itu. Gue kangen Brian.

Brian gak punya bnyak temen, bahkan lebih banyak musuh karena sikapnya yang gak pernah ramah sama semua orang. Bahkan sebelum dia mulai berbicara, orang-orang sudah benci duluan ketika meihat tatapanya yang tajam.satu yang paling gue hafal dari sikapnya, dibandingkan harus berkomentar tentang sesuatu, dia lebih suka tersenyum sinis untuk mengomentari berbagai macam hal. Karena itu mungkin gak bayak dari teman-teman sekolahnya suka padanya. Kalian fikir dia mengesalkan? Well, here’s the funny thing, awal pertama kali gue kenal sama Brian adalah ketika gue datang ke sebuah acara musik dan kaget karena orang seperti dia suka music jazz (tadinya gue fikir dia suka music rock atau punk, gak jenis music melambai gini hehe) bagian paling ngeselinnya dia gak sadar kalau gue adalah teman sekelasnya, gue inget pertama kali dia bilang “gue gak inget punya temen sekelas yang badannya kecil kayak lo” katanya sambil ngeliat gue heran. Dari situ gue dekat, selalu berdua, dia selalu saja tersenyum didepan gue tapi tidak didepan orang lain, gue ngerasa istimewa. Berteman dengan Brian benar-benar saat paling bebas dalam hidup gue.

Dan saat gue sadar, gue sudah memukul jauh semua yang gue punya, Brian membuat dia menjadi pusat dari dunia gue, menyingkirkan semua yang dulu gue punya tapi hal yang paling mengejutkan adalah gue gak ngerasa itu hal buruk. Somehow gue ngerasa memang Brianlah teman yang tidak mementingkan harta, social-life, sepatu baru keluaran dior, tas yang dipakai Jenifer Anniston, baju yang dipakai Heidi Klum, atau hal yang lainnya. Singkat cerita Brian membuat gue melihat sisi lain dari dunia tanpa harus repot-repot mengeluarkan uang.

Hal yang menyenangkan ini berahir ketika gue dengan bodohnya membiarkan Jessica, orang yang sangat membenci Brian memasuki pikiran gue dengan membrain-wash  gue supaya kenal lebih dekat dengan Brian dengan cara mengetahui semua masa lalunya.

Malam itu dengan bodohnya gue mulai bertanya-tanya soal  masa lalunya, tentang berita yang menceritakan kalau dia membunuh ayahnya, berita yang selalu membuat orang menjadi segan ketika ingin mencoba untuk kenal lebih dekat dengan Brian. Malam itu diapartemennya,gue bertanya mendesak dan memaksanya untuk bercerita. Dia geram, dia marah! Sambil memukul meja dia berkata

“GUE NGEBUNUH BOKAP GUE SENDIRI! DAN GUE GAK NGERASA SALAH! GUE GAK NGERASA GUE UDAH MELAKUKAN HAL BURUK! BECAUSE FOR THE WHOLE MY LIFE DIA NYALAHIN GUE KARENA GUE UDAH NGEBUNUH NYOKAP GUE SENDIRI! NYOKAP GUE MENINGGAL PAS GUE LAHIR! AND THAT BASTARD BLAME ME! GUE CUMA PENGEN RASA BERSALAH ITU HILANG! DAN TERNYATA NGEBUNUH BOKAP GUE SEDNIRI GAK NGILANGIN APA-APA, MALAH NGEBUAT SEPARO DARI DIRI GUE HILANG!” habis ngomong itu dia Cuma duduk dibawah meja, meluk dengkulnya sendiri, mencoba masuk kembali ke dalam comfort-zone-nya saat itu gue bisa liat air matanya bener-bener ngalir deras, baru kali ini gue ngeliat reaksi yang beda dari dirinya dan gak nyangka akan jadi sedahsyat ini impact yang gue dapatkan.

“its ok its ok, like you said, its ok to feel not ok.” Ujar gue sambil terus memeluk Brian, gak banyak lagi yang gue bilang gue Cuma pengen memberikan rasa nyaman seperti yang dia berikan ke gue. Brian si pria kuat itu menangis like he never cried before. Sampai ahirnya kita tertidur sambil memeluk diri masing-masing dibawah meja.

Saat bangun dari tidur gue udah tidur di sofa, berselimutkan selimut Brian. Brian sendiri sedang terduduk diam dimeja makan. “I’ve been suffering for years, blaming myself for the death of my own mother and father! But thanks you make me feel better.” Teriaknya lirih lalu menusukan pisau kelehernya tepat didepan mat ague. Darah bermuncratan diama-mana, teriakan gue membahana memecah keheningan,dan lemas tidak bisa berbuat apa-apa ketika Brian tergeletak tidak bernyawa dengan berlumuran darah.

This entry was published on May 11, 2010 at 3:22 PM and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: