Dan Hujan pun Berhenti, karya Farida Susanty

Judul                     : Dan Hujan pun Berhenti

Pengarang          : Farida Susanty

Penerbit              : Grasindo

Tahun terbit       : 2007

Tebal                     : 322 halaman

Farida Susanty adalah seorang siswa kelas 3 Sekolah Menengah Umum yang baru saja mengeluarkan novel perdananya. Tidak seperti Novel teenlit yang lain, novel dengan cover yang suram ini memberikan kesan dan tema lain di dunia teenlit.

“Hei! Kenapa menggantungkan itu?”
“Biar hujan nggak turun.”
“Memangnya kenapa kalau turun?”
“Aku akan keburu mati sebelum aku bunuh diri.”
“Kamu mau bunuh diri?”
“Ya, asal nggak hujan.”
“…”

Dialog antara Leostrada Miyazao dan Spizza, seorang gadis disekolahnya yang ingin bunuh diri itu yang menjadikan novel ini sangat seru unuk dibaca. Leo sendiri bertemu dengan Spizza ketika dia seang kepayahan karena berkelahi dengan musuh gengnya dan spizza sendiri sedang siap-siap untuk bunuh diri. Terlalu naïf bagi Leo untuk melupakan percakapan singkatnya denga Spizza, gadis yang tenang itu mengingatkannya pada teman masa kecilnya yang telah meninggal. Membuatnya ingat kepada ketidakpercayaannya kepada dunia, kebenciannya dia dengan dunia dan keantisosialannya. Bersama dengan Spizza sedikit-demi sedikit Leo mencapai titik balik hidupnya. Sama seperti Spizza,  Leo juga membenci hujan karena hujan selalu mengingatkannya akan tragedy buruk yang selalu menghantuinya ketika orang tuanya bertengkar, dan ketika Ayahnya memukul adik perempuannya. Dan di atas segalanya, hanya satu yang bisa Leo pegang,yaitu dirinya dan Spiza, adalah orang-orang yang sama-sama tidak bahagia, dan sama-sama membenci hujan.Dan hanya itulah yang bisa mereka mengerti bersama, tanpa bisa dibagi pada dunia.

Novel ini sangat kental dengan suasana Jepang, Leo yang keturunan keluarga jepang yang kaya raya, boneka teru teru bozu yang digantungkan oleh Spizza adalah boneka kain yang biasa digantukan ketika hujan dijepang, bberapa dialog yang digunakan jgua ada yang menggunakan bahasa jepang dan hara-kiri atau kebisaan bunuh diri yang menjadi tema dari novel ini juga adalah kebudayaan bangsa jepang. Farida sangat pintar menghidupkan karakter Leo  dan pembaca pun akan terus larut kedalam karakter Leo dan masa lalu Leo yang kelam. Gelap, kelam, sedih, penolakan, angst, tragic hero, damsel in distress, dan tragic heroine. Itu kata-kata kunci utama dalam novel ini. Pada dasarnya saya tidak menyukai teenlit karena tema ceritanya yang terlalu klise, tapi Farida memberikan sesuatu yang berbeda dalam novel ini: sebuah suasana yang distopia. Orang-orang disini pada dasarnya disakiti, dan mereka menolak untuk memperbaiki kesalahan tersebut hanya karena harga diri, padahal sesungguhnya, hal paling berharga adalah orang yang selalu ada didekat mereka setiap saat.

This entry was published on May 10, 2010 at 1:14 PM and is filed under Uncategorized. Bookmark the permalink. Follow any comments here with the RSS feed for this post.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: